Cinta adalah kehidupan. Tanpa cinta, kehidupan tidak membawa arti, demikian Islam membimbing. Orang dapat menikmati dalam menyembah Allah jika ia mencintai-Nya. Kenikmatan dalam memiliki sesuatu adalah ketika mencintainya. Interaksi suami- istri akan terasa nikmat ketika saling mencintai. Penderitaan terjadi jika hati tak bersambung dengan cinta. Cinta akan terasa jika orang yang mencintai menemukan suatu yang berharga di balik apa yang dicintainya. Maka wajar saja bila sesuatu dapat dipandang remeh oleh orang tertentu, karena tak mencintainya, sedang yang lainnya menemukan hal mahal di balik sesuatu tadi, karena ia mencintainya.
Semua manusia di segala usia akan sangat bahagia jika terkesampaian cintanya. Anak kecil bahagia jika ia merasa dicintai orang tua dan mencintai orang tua, remaja yang menginjak dewasa sampai orang tua, walaupun sudah usia renta, juga merasa bahagia jika bisa mencintai, baik cinta naluri fitri karena kebaikan yang dicinta atau hubungan darah antara keduanya, atau historis, atau cinta syahwat, atau perpaduan cinta fitri maupun syahwat.
Islam melihat semua hal itu wajar, bahkan memberikan ruang yang longgar untuk bisa menyambung listrik cinta ini. Hanya saja, listrik cinta sama dengan listrik fisik, jika menyambungnya tepat akan menghasilkan energi yang dapat digunakan untuk sesuatu, untuk menghangatkan badan yang kedinginan atau mendinginkan ruangan ketika sedang kegerahan, untuk menerangi ruangan yang gelap, membuat pandangan menjadi nyaman, bahkan bisa menyulap suasana jadi lebih romantis. Tetapi jika salah sambung, listrik bisa membakar ruangan, dan memusnahkan banyak hal.
Demikian pula listrik cinta, jika menyambungnya benar maka akan memberikan kebahagiaan luar biasa, kepada anak, istri, orang tua, mertua, sanak saudara, bahkan penduduk satu negeri akan kecipratan kebahagiaan. Seperti buah cinta Ibrahim dengan Hajar, Rasulullah dengan Mariyah Qibtiyah, yang telah memberikan keberkahan bagi kabilah Qibtiyah di negeri mesir, di mana Rasulullah memesan sahabatnya supaya berbuat baik kepada mereka, karena Mariyah dan Hajar dari mereka. Teman-teman Khadijah pun mendapat kebahagiaan karena perhatian Nabi kepada mereka, karena buah cinta Rasulullah kepada Khadijah.
Jika listrik cinta salah sambung, maka kecelakaan akan merundung. Kemasiatan dilakukan tanpa malu malu, seperti fenomena perzinaan, homo, lesbi, dan skandal cinta segi tiga yang berakibat pembunuhan.
Cinta tidak kenal usia. Ya, karena kebahagiaan manusia terdapat dalam cinta. Orang tua yang sudah renta pun pasti juga mendamba kebahagiaan. Memang kebahagiaan seorang hamba, merupakan tujuan Allah dalam menurunkan syariat-Nya. Wajarlah, jika orang tua pun ingin mencintai dan dicinta, dicintai anak cucu, istri atau suami, saudara, dan lingkungan. Ia dicintai karena hubungan historis, juga karena investasi kebaikan yang ia tanam kepada mereka.
Tapi yang perlu diketahui, bahwa seorang dicintai dan mencintai selain karena Allah yang menanam cinta, juga karena ada sebab-sebab sunnatullah (ketetapan Allah); seperti keindahan akhlaq, ataupun fisik. Jika sebab sunnatullah tidak diperhatikan, tidak akan muncul cinta. Seperti kita saksikan, seorang kadang-kadang tidak merasakan cinta sama sekali kepada orang tuanya yang asli, dan justru mencintai orang tua asuhnya, karena orang tua aslinya tidak pernah memperhatikannya. Bahkan mungkin memperlakukannya secara kasar. Demikian juga suami istri akan merasakan tarikan cinta yang dalam walaupun sudah usia senja, jika keduanya saling memberikan perhatian, serta penghargaan, kepada yang lainnya. Berusaha menjaga kebaikan dan keindahan diri, fisik maupun rohani.
Apakah kebutuhan biologis juga memainkan peran?
Ia memainkan peran yang tinggi, tapi bukan segala-galanya. Cinta bisa dibangun dan dirasakan walaupun sudah tidak ada kebutuhan biologis, asalkan masih didapatkan potensi kebaikan, seperti kesetiaan dalam perhatian.
Kalau kenikmatan hidup adalah dalam cinta, mencintai atau dicintai, maka yang penting di sini adalah membuat magnet cinta dalam diri. Al-Qur'an membimbing, bahwa cinta itu datang dari Allah, diberikan kepada hamba-Nya yang beriman dan beramal salih. Iman merupakan potensi keindahan diri amal salih, serta keindahan interpersonal. Allah berfirman:
”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal salih, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam: 96)
Dalam hadits dikatakan:
“Abu Darda telah menulis surat kepada Maslamah bin Mikhlad dan dia gubernur mesir, amma ba'du. ”Sesungguhnya hamba jika beramal dengan ketaatan kepada Allah, Allah mencintainya, dan jika mencintainya, Allah menjadikan dia dicintai hamba- hamba-Nya, dan jika membencinya, dia dijadikan dibenci oleh makhluk-Nya.”
“Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil jibril, kemudian berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mencintai si fulan maka cintailah dia.’ Maka Jibril mencintainya, lantas jibril menyeru di penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Maka penduduk langit pun mencintainya. Kemudian disiapkan hati manusia penerimaan untuknya di muka bumi. Dan jika membenci seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman, ‘Aku membenci si fulan maka bencilah dia.’ Maka Jibril pun membencinya, kemudian Jibril menyeru penduduk langit dengan mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah membenci fulan, maka bencilah dia.’ Maka mereka membencinya, kemudian dijadikan dia dibenci di bumi.” (HR. Bukhari)
Jadi, menanam investasi cinta dalam diri dengan iman kepada Allah dan amal salih, serta kebaikan kepada manusia karena Allah itu amat perlu. Dan hal itu sejatinya merupakan investasi cinta manusia kepada-Nya, baik keluarga maupun masyarakat.
Iman kepada Allah, adalah cinta kepada-Nya yang melahirkan komitmen dengan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya, belajar dari diinullah sampai meresapi keindahan dan merasakan kebahagiaan dengan Islam, serta berusaha mentransformasikan kebaikan itu kepada orang lain dengan penuh kasih sayang dan penuh keyakinan. Kebaikan apa yang ia sampaikan, akan menunai cinta masyarakat yang luar biasa. Coba lihat berapa banyak dari guru, ulama, serta kyai yang dicinta dan dirindu, bukan karena uang yang ia bagi-bagi, tapi karena pancaran iman dari mukanya, karena mutiara hikmah dari lisannya yang selalu dirasakan kesejukannya oleh orang yang berinteraksi dengannya.
Ketika Mu'adz bin Jabal menghadapi kematian, para pengikutnya menangisinya, maka beliau bertanya kepada mereka, “Apa yang kalian tangisi?” Mereka menjawab, “Demi Allah, kami tidaklah menangisi harta yang kami dapatkan dari Anda, tapi menangisi ilmu dan iman yang selalu kami reguk dari Anda.” Allahu Akbar! Ternyata kebutuhan masyarakat bukan hanya sekedar materi, tapi bagaimana mereka dibimbing dengan ilmu, iman, serta hikmah, sehingga mereka menemukan jati diri mereka, bisa berbahagia dengan apa yang mereka dapatkan. Tanpa iman, materi, jabatan dan segala-galanya akan menjadi bencana. Maka diperlukan da'wah untuk menawarkan Islam dengan kata-kata yang manis dan lembut secara terus menerus, sehingga mereka cinta kebaikan dan saling mencintai di antara pencinta kebaikan. Inilah perekat hati yang luar biasa. Allah berfirman:
“Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman) . Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS al-Anfal: 63)
Nabi saw. begitu dicintai oleh shahabatnya, sehingga seorang di antara shahabat beliau ada yang menghilang dari pandangan beliau berhari hari, sampai beliau mencarinya. Lantas beliau bertanya, ”Apa yang berubah dari Anda? Apa Anda sakit?” Dia menjawab, ”Tidak. Hanya saja saya selalu memikirkan Anda Ya Rasul. Saya tidak sabar kalau tidak bisa melihat Anda, dan saya berpikir, kalau engkau masih hidup, maka kalau saya rindu, dengan mudah saya datang ke masjid atau ke rumah Anda. Tapi saya berpikir, bagaimana kalau Anda dan saya sudah meninggal, apa iya saya masuk surga? Kalaupun masuk surga, pastilah kedudukan Anda begitu tinggi, sehingga sulit rasanya saya melihat Anda. Itulah yang menyebabkan fisik saya berubah. Maka Nabi saw. Menghiburnya, dan turunlah firman Allah:
”Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup Mengetahui.” (QS. An-Nisa: 69-70)
Barang kali bisa menjadi pendukung teori investasi cinta ini, yaitu menyebarkan pemikiran baik walaupun tidak bisa membagi harta. Apa yang terjadi pada diri seorang ustadz yang memimpin sebuah pesantren, yang pada mulanya menerapkan kebijakan-kebijakannya. Karena tergolong kebijakan yang baru, banyak para santri yang kaget. Akhirnya terjadi banyak resistensi, mulai dari kewajiban memakai jilbab yang besar standar, bukan jilbab gaul, hafalan Al-Qur'an dan larangan merokok, atau ketegasan dalam menyikapi fenomena pacaran. Namun dengan terus-menerus, secara persuasif kebijakan itu disosialisasikan disertai dengan pembinaan iman.
Tidak berjalan lama, para santri dan santriwati pun mulai memahami kebenaran kebijakan tersebut, dan kebijakan itu memang kebaikan bagi mereka. Maka para santri pun merasa senang dengan aturan baru tersebut, dan menjadi kebiasaan hidup mereka. Mereka merasa senang dibimbing dengan Al-Qur'an. Namun karena suatu hal, akhirnya ustadz tersebut harus meninggalkan pondok tersebut, dan di sinilah cinta para santri kelihatan terhadap kebaikan. Mereka menangis dan meminta supaya ustadz tersebut kembali ke pondok dan tetap membimbing mereka. Bahkan surat dan telepon selalu sampai ke ustdz tersebut, yang mengungkapkan kerinduan para santri terhadap bimbingannya. Mudah-mudahan para santri tersebut tetap dibimbing oleh Allah.
Investasi cinta yang lain adalah memberikan sinyal kepada orang yang ia cintai bahwa dia mencintainya, mengungkapkan cinta itu secara verbal dengan kebaikan apa yang memungkinkan. Bisa dilakukan seperti salam dengan sungguh-sungguh ketika ketemu, menyalami dengan penuh kehangatan, mengunjungi, menjenguk ketika sakit, mendoakan ketika bersin, menanyakan ketika tidak ada, hadiah sebagai ungkapan kesetiaan, memperlihatkan kegembiraan ketika yang dicintai mendapatkan kebaikan, dan memperlihatkan kesedian ketika yang dicintai mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan. Banyak sekali hadits-hadits Nabi dalam kitab shahihain maupun kutubus sunan yang menekankan hal ini.
Maka Nabi Muhammad saw. pun menerangkan bahwa iman itu harus ada amalannya, yaitu memberikan kebaikan orang lain yang kita peroleh dari Allah. Kalau tidak, mengajari kebaikan orang yang membutuhkan, atau membantu dengan tenaga yang membutuhkan, atau minimal menahan untuk tidak mengganggu orang lain.
Cinta dalam Islam bukan hanya di dunia, tapi sampai di akhirat. Untuk itu, haruslah dicari sebab cinta yang kekal. Adapun cinta karena dunia, apalagi atas dasar kekufuran, akan berakhir ketika berhentinya hidup, bahkan akan berubah menjadi permusuhan. Allah berfirman:
”Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan.” (QS. az-Zukhruf: 67-70)
Dan ketika cinta itu benar, maka kematian pun berubah menjadi sesuatu yang mengunikkan, seperti tangisan dan tertawanya Fatimah putri Rasulullah saw., ketika Rasulullah menjelang wafat. Di mana Rasulullah membisikkan ke telinga Fatimah, maka Fatimah menangis, kemudian membisikkan yang kedua, dan beliau tertawa. Ketika ditanya tentang hal itu beliau menjawab, bahwa beliau menangis karena Rasulullah mengatakan akan wafat, dan kemudian ia tertawa karena diberitahu bahwa Fatimah adalah wanita yang pertama kali menyusul beliau, maka beliau tertawa. Padahal artinya, Fatimah akan segera meninggal, tapi meninggal yang membahagiakan, karena dia akan bertemu dengan ayahandanya yang tercinta. Dan hal ini persis apa yang terjadi pada Bilal bin Rabah ketika ditangisi putrinya, beliau berkata, ”Wahai putriku, jangan menangisiku karena, esok hari akan ketemu dengan kekasih, Muhammad dan sahabatnya.”
Maka bagi suami dan istri yang renta dan sudah tidak ada yang menarik lagi dari biologisnya, jangan berpikir tentang bidadari saja, sebab suami dan istri jika salih, akan menjadi lebih cantik dari bidadari di surga dengan keutamaan ibadahnya. Maka Allah berfirman, ”Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. Penuh cinta lagi sebaya umurnya.”
Kata Ibnu Abbas, ayat ini berkenaan dengan wanita-wanita renta yang keriput. Ketika masuk surga, mereka akan dijadikan perawan lagi. Sebagaimana candanya Nabi saw. ketika ada seorang wanita renta yang bertanya, apa dia masuk surga? Kata Nabi, ”Orang seperti engkau tidak masuk surga.” Maka larilah wanita itu sambil menangis. Lantas ia dipanggil Nabi dan diberi tahu bahwa wanita tua tidak masuk surga dengan penampilnnya yang sekarang, melainkan akan dijadikan perawan muda lagi ketika masuk surga.
Wallahu A'lam Bisshawwab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar