Hari ini. Saya dipanggil oleh Tata Usaha Sekolah. Sudah jelas kalau yang memanggil Tata Usaha pasti tidak akan jauh dengan bayaran Sekolah.Tapi saya enteng - enteng saja jalan mengingat jumlah yang harus saya bayar tidak begitu banyak karena sudah banyak yang lunas. Saya memang tidak sendiri. Salah satunya ada juga Aa Fajar yang juga orang tuanya belum melunasi adminitrasi. “Jadi kurangnya sekian 1,8 juta” kata staff TU ke Aa Fajar. Aa Fajar memang siswa yang populer di mata guru, karena selain aktif di kegiatan osis dia juga selalu bersemangat datang ke Sekolah. Rumahnya jauh bukan main, berada di atas gunung Cakar sana. Sangkin jauhnya waktu kelas dua, tepatnya ketika siswa - siswi kelas XII mengikuti study tour, Dia memilih menginap di Sekolah sampai pagi agar bisa naik kendaraan paginya. Maklum waktu itu kami pulang sekitar jam 1 dini hari. Si Fajar bisa dibilang masuk ke daftar anak yang dapat subsidi dari Sekolah karena Ya bisa dibilang bukan berasal dari keluarga yang punya.
Sebentar Lagi UN, banyak biaya. Banyak bayaran yang harus dilunasi. Belum lagi persiapan meneruskan pendidikan ke Universitas. Aa Fajar dapat subsidi 600 ribu sehingga sisa adminitrasi yang harus ia bayarkan hanya tinggal 1,2 jt dengan syarat harus lunas sekaligus pada tanggal 4 Maret. Sekarang tanggal 27 Febuari 2013. Tentu saja untuk kemudahan mengikuti Ujian Akhir Sekolah, Try out dan sebagainya syarat utamanya harus memenuhi Adminitrasi.
Dalam benak saya, yang saya pikirkan. Kalau Bapaknya Aa Fajar itu saya, wah pasti berfikir uang 1,2 jt dapat dari mana ya?. Apa lagi tanggal 4 maret uangnya udah harus ada. Disitu Saya kembali berfikir.Jika nanti saya sudah berkeluarga. Dan Anak saya ada yang sudah sekolah. Dan saya amit - amit, hidup miskin. Dengan apa saya harus membayar uang Sekolah? dengan penghasilan misalnya tidak menentu. Mulainya saya menyadari bagaimana orang tua saya mencari uang. Bahkan Mamah Saya, suatu hari pernah terpaksa harus mengutang ke Tetangga sekian juta untuk bayaran Sekolah.
Di Satu sisi , Bapak dan Mamah dirumah nggak pernah nyambung untuk urusan ‘uang belanja’. Bapak sendiri pastilah marah kalau di tanya uang sekolah. ” Bayar apa lagi?, kemarenkan udah gimana sih?”. Maklumlah, dipikiran Bapak pasti yang ada dikepalanya hanyalah “Kok biaya terus?”. Sedangkan di Otak Mamah “Semuanya selalu butuh uang, Dapur harus ngebul, 3 Anaknya nggak ada yang kerja, masih perlu biaya”.
Apakah nanti saya pun seperti itu?. Bekerja keras banting tulang dan selalu dibuat pusing dengan biaya Hidup keluarga Saya nanti?. Sungguh saya belum siap.
Selama ini, jujur selama 2 tahun ini. Alhamdulilah, lewat blog. Saya setidaknya punya tabungan meskipun jumlahnya tidak begitu sedikit. Tabungan itu saya dapat dari entah itu Kontes blog di blogdetik, Menawarkan Jasa gambar di twitter, facebook maupun ke Para ‘om dan tante blogger’ , bahkan dari Job review dari Idblognetwork dan juga ‘memasang banner’ dari perempuan yang super wi - fi yang bisa anda lihat ke sebelah kanan. Alhamdulilah, saya yang memang anak yang –Sangat jarang minta uang ke orang tua, terutama Mamah untuk beli barang yang saya inginkan–. Selama ngeblog di masa Sekolah ini, uang jajan selalu ada. Tapi sayangnya saya yang tidak begitu pintar mengatur ‘Uang’ sering menggunakan uang saya untuk keperluan yang sebenarnya tidak begitu perlu.
Seperti alat perekam suara, Camera digital dan yang baru - baru ini saya dengan cerobohnya memilih membawa netbook saya ke tukang service yang sebenarnya saya juga tidak begitu perlu untuk menservisnya. Di total - total, saya sudah boros lebih dari 3 juta. Agak menyesal.
Terlebih lagi Di Sekolah ada saja biaya - biaya yang semakin mencekik. Entah itu remedial, Buku tahunan dan buanyakk lagi, dan saya lagi - lagi tidak meminta uang ke Mamah. Sering saya tidak jajan. Sedangkan mereka hanya satu saya ini berduit karena sudah menghasilkan uang dari ngeblog. Padahalkan ngeblog itu ‘Uang’nya nggak pasti adanya kapan.
Dan sekarang Sisa uang yang ada saya pakai untuk mengikuti bimbingan belajar online sebesar Rp 500.000 + CD Rp 450.000, ditambah biaya servis netbook yang ternyata ‘tetap rusak’ sebesar Rp 400.000. Dan huahhh banyak lagi. Bisa dibilang tabungannya saya mulai menipis dan habis. Jika saya masih seperti ini tidak meminta ke orang tua yang juga sama - sama –lagi banyak biaya– Mati sajalah. Aduh, biasa - bisanya anak SMA mikirin Biaya. Tapi disini saya belajar bahwa ada baiknya saya menggunakan Rezeki yang saya terima dengan sebaik mungkin. Dan menyisakan sebagian uang untuk menjalankan perintah agama. Dan benar apa kata guru Agama saya. “Boros itu temannya setan, janganlah kamu menghambur - hamburkan rezekiyang kamu punya. Ingatlah di rezeki mu ada hak fakir miskin”. Setiap memikirkan itu, alhamdulilah Saya selalu menyisihkan 10% uang yang saya punya.
Malam ini. Saya disuruh beli buah - buahan sama Bapak. Emang udah kegemaran Bapak beli buah - buahan di awal gajiannya. Bapak hampir separuh hidup kerja di pabrik Baja. PT Krakatau Steel. Saya tahu betapa tersiksanya bapak bekerja di tempat yang bukan ‘Pekerjaan’ yang sesuai dengan minatnya. Bapak lebih menyukai hal yang identik dengan pekerbunan, jadi tidak aneh untuk biaya kuliah nanti saja bapak sudah menanam pohon jati jauh - jauh hari untuk dijual dan digunakan untuk biaya Sekolah anak - anaknya. Meskipun pohon jati yang Ia tanam , tumbuhnya segitu - segitu aja. Nggak kunjung besar dan tinggi karena memang pohon jatikan tumbuhnya puluhan tahun kemudian untuk jadi besar.
“Mas, Salak sekilonya berapa?”
“8ribu”
“Oh Yaudah, salak sekilo, kalau manggis berapa mas?”
“Sama “
“Manggis juga deh”
Tempat kios buahnya sederhana. Cuma dari beratapkan anyaman daun kelapa. Letaknya persis di depan Mini market yang ramai dengan pedagang kaki lima. Suaranya di sekitanrya bising. Lalu - lalang kendaraan yang amit - amit bikin budek suara kenalpotnya. Di tambah lagi si Mas penjual buah ini nyetel juga musik dengan kerasnya. Sebelah kiri kiosnya ada tukang CD bajakan pula. Yaudahlah ribut banget. Tapi perhatian saya tercuri oleh seorang anak kecil yang serius memegang pensil dan menulis di atas bukunya. Cahayanya tidak terlalu terang. Ia belajar di atas terpal. Karena kiosnya alasnya hanya tanah. Sekarang angin laut sedang bertiup tidak karuan. Kios yang bisa dibilang gubuk itu seperti berkibar. Di satu sisi Bapaknya sedang memilih buah terbaik dan dimasukan ke kantong plastik. Untuk biaya anaknya pastilah Ia pastikan memberikan nafkah yang benar - benar halal untuk anaknya.
Di dekatnya ada paku - paku yang menggantung seragam anak perempuan yang mungkin masih duduk di kelas 1 SD itu. Sesekali tangannya berhenti menulis. Pasti karena suara bising kenalpot dan Bapaknya yang memutar lagu keras - keras. Di tambah lagu suara tabuan gendang penjual CD bajaka di sebelah kios. Saya merasa miris. Kok bisa belajar di tiap seperti itu?. Di atas terpal yang sama sekali tidak nyaman. Karena banyak nyamuk juga karena belakangnya hanya alang - alang.
Si Bapak sesekali memperhatikan anaknya belajar dan mengecilkan volume musiknya meskipun rasanya percuma. Mengingat tempatnya yang memang bukan tempat untuk belajar. Yang ada di benak bapak itu melihat anaknya belajar pastilah ‘Biaya Sekolah si Anak itu.
Dengan menjual buah - buahan yang tidak begitu banyak pembeli.Dengan harga hanya 8 ribu per kilo. Berapakah keuntungan yang Bapak itu dapatkan perharinya?. Pastilah menjadi pedagang buah di pinggir jalan penghasilannya tidak pasti. Tidak seperti berjualan Bakso atau makanan populer lainnya. Menjual buah - buahan yang notabennya di mini market tempat diseberang lapaknya pastilah jauh lebih segar buah - buahannya. Apa lagi yang dijual bukanlah buah kelas menengah seperti ‘Apel, jeruk dan anggur’ tetapi kelas kebawah. Sejenis salak, bengkuang yang tidak ada menarik - menariknya dilirik. Pastilah berat persaingan si Bapak itu mencari nafkah.
Saya pun pulang membawa buah - buahan yang tidak segar itu. Berfikir anak kecil yang belajar di tempat yang ‘ancur itu’. Si Bapak penjual buah, kehidupan seorang Ayah. Bagaimana mereka mencari nafkah?. Beratkah?. Bagaimana sikap anak untuk perjuangan yang sudah Ayah mereka lakukan , adakah sedikit saja ada rasa terima kasih?. Muak rasanya melihat sinetron di TV yang selalu menonjolkan pergaulan yang macam - macam. Pamer kekayaan orang tuanya, gengsi kalau tidak punya hp mahal dan sebagainya.
Saya berfikir, Jika saat ini saya adalah seorang Ayah. Mungkin saya bukanlah Ayah yang baik. Saya menggunakan uang untuk hal yang tidak begitu penting sedangkan diluar itu banyak hal yang sangat penting yang harusnya bisa saya bayar tanpa meminta uang ke Mamah atau pun Bapak.
Beban orang tua di zaman yang serba mahal ini pastilah sangat berat. Biaya sekolah tambah mahal. Tuntutan zaman semakin kejam. Sedangkan Si Anak semakin hari semakin kurang ajar karena teracuni budaya ‘jahiliyah’ yang mulai kembali mempengaruhi kehidupan generasi muda.
Gengsi punya Bapak yang mungkin hanya penjual buah, pedagang kecil - kecilan. Padahal Orang tua mereka mati - matian memperjuangkan masa depan mereka. Mengusahakan berbagai macam cara halal untuk memenuhi segala kebutuhan. Mengutang sana sini hanya untuk anak. Tapi dimana timbal baliknya?.
Uang satu juta di mata seorang anak mungkin hanya habis dipakai beli smartphone yang lagi ngetreng saat ini.
Di mata seorang Ayah uang 1 jt rupiah mungkin bisa digunakan untuk dapur keluarga sebulan
Uang 50ribu di mata anak mungkin hanya cukup untuk mengisi paket black berry.
Di Mata Ayah , itu digunakan untuk uang saku anaknya.
Melihat bagaimana orang tua menggunakan uang sudah pasti sangatlah berbeda.
Ya Allah, maafkan hamba mu yang masih labil ini. Terima kasih engkau telah memberikan lukisan kehidupan yang nyata sehingga hamba bisa belaar banyak hal. Semoga di masa depan hamba menjadi seorang Ayah yang baik dan pintar mendidik Anak agar tidak manja. Sehingga bisa menjadi orang sukses yang bukan saja mampu memenuhi kebutuhan keluarga tetapi juga mampu membantu sesama dari rezeki yang di punya amin.
“Seorang Pedagang Buah, pasti ingin merasakan betapa manisnya buah yang Ia petik. Tapi demi anaknya, Ia rela menjualnya demi masa depan “
Tidak ada komentar:
Posting Komentar